MENYELAMATKAN INDONESIA EMAS DENGAN PENCEGAHAN STUNTING

Selain itu pada wanita hamil di bawah usia 18 tahun, organ reproduksinya belum matangdan belum terbentuk sempurna sehingga berisiko tinggi mengganggu perkembangan janin dan bisa menyebabkan keguguran.

Pemberian Asi Eksklusif
Menurut rekomendasi WHO dan UNICEF, salah satu cara untuk mencegah stunting adalah pemberian air susu ibu (ASI) eksklusif sampai bayi berumur enam bulan. ASI ekslusif artinya bayi tidak mendapat asupan lainnya selain ASI. ASI mengandung gizi lengkap yang mudah dicerna oleh perut bayi yang kecil dan sensitif. Itulah mengapa, hanya memberikan ASI saja sudah sangat cukup untuk memenuhi kebutuhan nutrisi bayi di bawah usia enam bulan. Bahkan risiko stunting ini dapat meningkat jika bayi menerima makanan pendamping ASI atau melepas ASI eksklusif terlalu dini.

Read More

Hal ini dikarenakan saat bayi mulai dikenalkan dengan makanan sebelum usia enam bulan,akan membuat bayi lebih tertarik dengan makanan tersebut dibandingkan ASI. Sehingga, bayi berpotensi kehilangan nutrisi penting yang terdapat pada ASI. Untuk itu,  pemberian ASI eksklusif secara maksimal hingga usia bayi enam bulan menjadi  salah satu cara mencegah stunting yang efektif. Dampak lain dari pemberian ASI Ekslusif adalah tumbuh kembang bayi lebih optimal dan tidak mudah sakit di masa pertumbuhannya kelak.

Faktor Sanitasi dan Lingkungan
Persoalan stunting  bukan hanya mengenai status gizi yang buruk, akan tetapi juga berkaitan dengan rantai kemiskinan, yang terus berlanjut apabila tidak segera di tangani. Sumber Daya Manusia yang digadang-gadang menjadi prioritas utama menjadi tidak berdaya saing apabila anak-anak Indonesia masih diselimuti permasalahan stunting. Bonus demografi yang diprediksi akan terjadi di tahun 2045 nanti juga akan sia-sia atau malah akan menjadi bencana apabila generasi muda bangsa masih mengalami stunting.

Meski terus mengalami perbaikan dari sektor kemiskinan dan secara sah keluar dari kategori daerah tertinggal, Berdasarkan data BKKBN provinsi Sulawesi Barat, keluarga Pra-Sejahtra di kabupaten Polewali Mandar masih berada di angka 29 persen dari total 31.393 keluarga prasejahtra di Sulawesi Barat, atau mencapai 9.180. disampiang itu lebih dari 280 Ha wilayah pemukiman kabupaten Polewali Mandar masih merupakan kawasan kumuh, dimana lebih dari 11ribu penduduknya masih kesulitak mengakses Air Bersih.

Selain itu, di provinsi Sulawesi Barat, Polewali Mandar merupakan darah dengan ketersediaan jamban terendah, sebanyak 12.547 keluarga di kabupaten Polewali Mandar, masih menggunakan jamban yang tidak layak, dan 26.359 keluarga di Polewali Mandar, memiliki rumah yang tidak layakhuni.

Dengan kondisi demikian sebanyak 54.811 keluarga di kabupaten Polewali Mandar, diperkirakan beresiko besar akan melahirkan generasi yang stunting. Meski terus berbenah dengan mengeluarkan kebijakan-kebijakan jangka pendek dengan memberikan bantuan sosial Program Keluarga Harapak atau PKH ke 29.642 keluarga, dan 38.225 pnerima Bantuan Pangan Non Tunai atau Sembako, hal ini tentu saja tidak serta merta dapat menurunkan stunting atau menhapus suntuk dari Indonesia seperti kata Presiden kelima Ibu Megwati soekarno Putri.

Upaya Penanganan Stunting
Setidaknya ada dua cara yang dapat dilakukan agar persoalan stunting dapat benar-benar diselesaiakan yang pertama intervensi gizi spesifik dan intervensi gizi sensitif. Intervensi gizi spesifik ditujukan kepada remaja untuk mencegah anemi seperti upaya yang akan dilakukan PKK Provinsi Sulawesi Barat, pemberian makanan tambahan untuk ibu hami, serta mendorong pemberian ASI eksklusif.

Sedangkan intervensi gizi sensitif dapat dilakukan melalui berbagai kegiatan pembangunan di luar sektor kesehatan, misalnya menyediakan bantuan dan jaminan sosial pada keluarga miskin. Seperti program-programa bantuan langsung ke masyarakat. Selain itu keterlibatan semua pihak menjadi kunci penurunan stunting dan sebagai upaya menyelamatkan generasi emas indonesi tahun 2045 kelak.

Terlebih sampai pada 31 desember tahun 2022 ini diprediksi Polewali Mandar akan terjadi kelahiran lebih dari 9.000 bayi. Mari bersama-sama membayangkan dari 9.000 bayi yang akan lahir, pabila 38 persen diantaranya merupakan balita stunting, bukannya menjadi bonus demografi tapi akan terjadi bencana demografi skala besar. Mari berkontribusi untuk menyelamatkan masa depan bangsa.

Related posts