“Kami ingin vouters sesuai statuta PSSI, bukan asal-asalan. Harus yang sudah terdaftar di keanggotaan Askot dan tidak ada istilah kategori kategori. SSB yang ada juga harusnya jadi vouters. Jadi, tujuan kami adalah menyelamatkan Askot PSSI Parepare agar siapapun yang terpilih nanti benar-benar melalui proses yang sah dan benar,” tegas pensiunan pegawai PT. Telkom itu.
Kekecewaan serupa diungkapkan oleh Andi Rifai, pembina salah satu klub bola legendaris di Parepare. Ia menyatakan bahwa klub yang dibinanya tidak dimasukkan sebagai anggota Askot PSSI Parepare meskipun aktif dan memenuhi syarat.
“Tentu kami kecewa. Bagaimana sepak bola Parepare mau maju kalau pengurusnya tidak objektif terhadap klub yang aktif membina,” kata Andi Rifai.
Dia juga meminta agar pelaksanaan Muskot ditunda hingga Ketua Asprov Sulsel definitif.
“Kita harapkan semuanya harus legal demi masa depan sepak bola Parepare,” tambahnya.
Senada dengan itu, Bastian, pembina klub bola lainnya, berharap Muskot dapat melahirkan kepengurusan yang baru dan berkualitas.
“Kita ingin pembinaan sepak bola di Parepare berjalan lebih baik dengan Ketua yang baru. Jangan itu-itu saja,” harapnya.
Sorotan terhadap rencana Muskot ini mencerminkan keinginan pemerhati dan pelaku sepak bola Parepare untuk memastikan proses regenerasi kepemimpinan di Askot PSSI berjalan transparan, sah, dan membawa dampak positif bagi perkembangan sepak bola lokal. (d11/dlk#)











