Dana sebesar itu untuk pengadaann 35 ribu exampler. Sumber menyebut harga per buku Rp15 ribu pereksampler.
Sementara Harga umumnya buku jenis serupa dilansir pada sejumlah toko online berkisar hanya Rp2.500 – Rp3.500. Terjadi selisih harga sekitar Rp10 ribu.
Pengadaan buku isian murid untuk tingkat SD dan SMP tersebut ramai disoroti karena diduga diatur oleh orang dekat pejabat.
Kepala Bidang Pendidikan Dasar dan Menengah Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Disdik Pinrang, Muktar, kepada wartawan membantah perihal kasus yang disebut-sebut melibatkan dirinya.
Muktar berdalih jika harga di toko online yang dijadikan dasar itu berbeda dan tidak bisa dijadikan acuan.
“Itu harga ‘shopee’ pak. Coba bandingkan harga daerah lain,” dalih dia.
Muktar beralasan bahwa semua barang jika menggunakan standar harga onlien, pasti murah karena tidak bisa dijamin ketersediaan barangnya.
“Harga Shopee itu tidak bisa jadi standar untuk membuat HPS, coba liat harga barang disana ada yang murah nya tidak masuk akal tapi begitu pesan barang belum tentu datang. Pajak belum masuk ongkir juga belum banyak barang yang bukan aslinya dan biasa tidak sesuai dengan gambar,” kata dia. (d11/dlk*)











