“Terdapat Desa Tangguh Bencana sebanyak 746 yang sudah terdata. Kita juga mempunyai tenda edukasi bencana, mobil edukasi bencana dan membentuk sekertariat relawan penanggulangan bencana sebanyak 210 kelompok relawan,” ujar Suban, yang hadir secara fisik sebagai narasumber Rakor TIPB.
Ketangguhan masyarakat Jatim tetap harus ditingkatkan mengingat Jatim memiliki 8.501 desa dan 2.742 diantaranya termasuk dalam kategori rawan bencana tinggi. Berada dekat dengan pertemuan lempeng Indo – Australia, pergerakan lempeng tektonik membuat Jatim memiliki potensi kegempaan yang signifikan. Sepanjang tahun 2020, telah terjadi 248 kali gempabumi dan pada awal 2021 terjadi 89 kali di Jatim.
Hal tersebut diamini oleh Dr. Daryono, Kepala Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Daryono memaparkan wilayah Jatim memiliki banyak pusat gempa yang tidak terletak di jalur sesar aktif. Setidaknya sejak tahun 1896 terdapat lebih dari 9 kali wilayah Malang dan sekitarnya diguncang gempa destruktif.
“Menarik untuk dicermati melihat data gempa Jawa Timur, bahwa sejak tahun 1950 semua gempa dengan kedalaman menengah (intermediate depth) di Jatim dengan magnitude 6.0-6.6 ternyata menimbulkan kerusakan dan kerugian,” jelas Daryono.
Hasil survey BMKG menunjukan bahwa faktor penyebab kerusakan bangungan rumah diakibatkan oleh beberapa faktor, yakni konstruksi bangunan yang buruk tidak mengacu aturan bangungan tahan gempa, lokasi rumah terletak pada tanah lunak dan pemukiman yang terletak di lereng perbukitan. Sementara dalam konteks bahaya gempabumi jatuhnya korban jiwa sering terjadi akibat korban terjebak di reruntuhan bangunan. Untuk itu mitigasi kepada masyarakat terhadap bangunan tahan gempa dan strukturalnya sangat penting untuk menekan jatuhnya korban jiwa. (D11)











