“Pembangunan dengan teori telapak kaki ini digerakkan melalui pembangunan secara multi sektor, mulai dari bidang kesehatan, pendidikan, pariwisata, infarastruktur, lingkungan hingga sosial budaya,” tutur Andi Pangerang Rahim.
Sementara itu, Anggota Dewan Komisi V DPR RI Dapil Sulsel II, Muhammad Aras, mengatakan bahwa potensi pariwisata pada titik destinasi di Makassar dan Parepare bisa lebih dikembangkan, karena Makassar mempunyai absolut advantage tidak hanya sebagai kota destinasi kunjungan namun juga sebagai kota transit di lintas daerah Indonesia Timur, sehingga perlu juga dioptimalkan agar pengunjung yang berdatangan di Makassar juga dapat menikmati pariwisata.
Pada Provinsi Sulawesi Selatan Kota Pare-pare, interkoneksi transportasi menghadapi berbagai tantangan dalam menghadapi perkembangan teknologi transportasi, namun juga memberikan peluang dalam penciptaan lapangan pekerjaan baru.
“Oleh karena itu, diperlukan sinergitas Kementerian Perhubungan dengan Pemerintah daerah, dan sinergi lintas sektor seperti Kementerian PUPR, dan Kementerian Pariwisata untuk memaksimalkan potensi pariwisata di Sulawesi Selatan,” ungkapnya.
Terkait pengembangan jejaring angkutan umum dan KA, konektivitas stasiun dengan kawasan pengembangan industri atau produsen suatu komoditas sangat penting, sehingga suatu stasiun akan diketahui arah pengembangannya.
Dalam hal ini perlu juga dilakukan perencanaan perpindahan moda transportasi dari titik-titik stasiun yang akan dibangun ke kawasan sekitarnya, dengan single seemless services.
Selain itu, banyak komoditas-komoditas pontensial di Parepare yang dengan adanya kereta Api ini maka komoditas-komoditas tersebut dapat diangkut secara menyeluruh dan bisa menumbuhkan perekonomian Parepare.
Pada rangkaian kegiatan sosialisasi ini juga dilakukan kunjungan lapangan ke Stasiun Marros guna meninjau secara langsung kondisi sarana prasarana yang ada bersama dengan stakeholder terkait.
Harapannya melalui kegiatan sosialisasi ini dapat memberikan pemahaman menyeluruh kepada masyarakat terkait kebijakan sektor transportasi yang telah, sedang dijalankan ataupun memperhatikan kebutuhan transportasi yang diperlukan, serta menjadi komitmen seluruh pihak untuk saling bersinergi dalam percepatan penyelesaian tahap pembangunan kereta api Makassar Parepare.
Turut hadir sebagai pembicara, Analis Kebijakan Madya, Herawati Basirpuli; Analis Kebijakan Muda Pusat Kebijakan Prasarana Transportasi dan Integrasi Moda; Ichda Maulidia, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sulawesi Selatan, Muhammad Jufri; Guru Besar Perencanaan Transportasi UNHAS, Muhammad Isran Ramli. (ADH/TZ)











