Sejalan dengan hal tersebut Sub. Kord. Pemasaran dan Promosi Dirjen Tanaman Pangan Kementrian Pertanian Maretsum Simanullang Sp. M.Si dalam sambutannya menambahkan dalam 2 tahun terakhir terjadi dinamika dalam harga kebutuhan pangan dengan menjeritnya pengrajin tempe diseluruh indonesia karena melonjaknya harga kedelai
“Saat ini harga kedelai dan Jagung kejar-kejaran, jadi Pak Menteri Pertanian mengerahkan ada semacam kemitraan yang dibangun kalau dipusat namanya Kopti Pusat sedangkan di daerah namanya koperasi tahu tempe melalui perjanjian untuk menyerap hasil dari petani”ucapnya
Lanjut ia mengatakan dalam 2 tahun ini selain pengrajin tempe/ tahu, petani kedelai juga tertekan karena dihadapkan dengan tempe luar negeri yang jauh dari segi kualitasnya
“Petani juga lebih tertekan karena dihadapkan tempe luar negeri yang punya kualitas tinggi, akan tetapi dari segi kesehatan kedelai kita masih dapat bersaing karena kedelai kita masih asli sedangkan tempe luar itu GMO ( Organisme termodifikasi secara genetika ) sehingga hal tersebut mejadi tantangan untuk kita bagaimana meningkatkan produktifitas petani”tegasnya
Sekretaris Daerah Enrekang H. Baba dalam sambutannya menyampaikan tentang potensi daerahnya dalam pengembangan kedelai yang baru dimulai sejak tahun lalu dengan mengutip penyampaian Sekdis Pertanian yang menyebutkan rata-rata 1 ton/hektar
“Dalam pengembangan kedelai baru tahun kemarin kami mulai menanam kedelai, Alhamdulilah, dalam satu hekar dapat menghasilan 2 ton/hektar, sudah sangat wajar enrekang menjadi perhatian penuh dari pemerintah provinsi dalam pegembangan kedelai
Lanjut ia mengatakan sektor pertanian merupakan salah satu unggulan dari kabupaten enrekang hal tersebut dapat dibuktikan melalui dasar makro sosial ekonomi
“kontribusi sektor pertanian kontribusinya sebesar 38% ini yang tertinggi untuk memberikan kontribusi terhadapa PDRB kita, saya kira wajar kiranya sektor pertanian ini dapat disupport dan digenjot”ucapnya (humas)











