Selain tari tersebut, Sanggar Ulengtipue juga membawakan Orkes To Riolo yang memadukan instrumen musik tradisional dengan alat musik modern. Kolaborasi itu menghadirkan nuansa etnik yang tetap mempertahankan karakter budaya lokal, namun dikemas lebih segar dan mudah diterima berbagai kalangan.
Di balik penampilan yang memukau, Zuhri mengungkapkan proses persiapan dilakukan dalam waktu yang relatif singkat. Tari Pepe-pepe Ka Ri Makka dipersiapkan melalui latihan selama tiga hari, sedangkan Orkes To Riolo hanya berlatih satu hari karena undangan tampil diterima secara mendadak.
Meski demikian, para penampil tetap berkomitmen memberikan pertunjukan terbaik. Menurut Zuhri, tantangan utama dalam membawakan Tari Pepe-pepe Ka Ri Makka adalah penggunaan properti api yang menuntut konsentrasi, ketelitian, dan kedisiplinan tinggi agar atraksi tetap aman tanpa mengurangi nilai artistiknya.
Ia berharap generasi muda semakin mencintai seni budaya daerah dan tidak sekadar mempelajari gerakan tari, tetapi juga memahami filosofi yang terkandung di dalamnya. Menurutnya, pemahaman terhadap nilai budaya menjadi kunci agar warisan leluhur tetap lestari di tengah perkembangan zaman.
Zuhri juga mengingatkan para pelaku seni untuk menghormati hak cipta setiap karya budaya. Ia menilai izin dari pencipta atau pemilik karya perlu dikedepankan agar pementasan tetap sesuai pakem, menjaga etika berkesenian, dan menghindari persoalan di kemudian hari.
Penampilan Sanggar Seni Ulengtipue pun menutup rangkaian CCF 2026 dengan meriah, sekaligus mempertegas bahwa seni tradisi tetap memiliki tempat di hati masyarakat ketika dikemas secara kreatif tanpa meninggalkan nilai dan makna yang diwariskan para leluhur. (*)











