“Banyak masyarakat yang merasakan manfaatnya, tapi kadang narasi yang muncul di media hanya fokus pada hal-hal negatif, biasanya orang-orang yang seperti itu tidak update informasi dan tidak berbaur dengan masyarakat sekitar,” katanya.
Meski demikian, Najamudin tidak menampik bahwa selalu ada ruang untuk perbaikan. Ia mengakui, komunikasi antara perusahaan dan masyarakat perlu terus diperkuat agar aspirasi tersampaikan dengan baik.
“Kalau ada pemuda yang merasa belum terakomodir, pintunya terbuka lebar untuk mengajukan diri lewat mekanisme resmi, bukan dengan aksi blokade yang justru merugikan semua pihak,” tuturnya.
Ia juga menegaskan, KWLT siap memfasilitasi dialog antara pihak yang merasa dirugikan dengan manajemen Masmindo. Dengan begitu, solusi yang diambil akan lebih konstruktif dan tidak menimbulkan gesekan sosial.
“Kita sama-sama ingin masyarakat sejahtera. Pemberdayaan adalah proses, bukan hasil instan. Mari kawal bersama tanpa saling menjatuhkan,” ujarnya.
Najamudin menutup pernyataannya dengan mengajak semua pihak menjaga suasana kondusif di wilayah tambang. Menurutnya, hubungan yang harmonis antara perusahaan dan masyarakat adalah kunci agar program pemberdayaan berjalan optimal dan memberi manfaat jangka panjang.
“Kalau semua pihak mau duduk bersama, saya yakin persoalan ini bisa selesai dengan baik,” pungkasnya. (d11/dlk**)











