” Beruntung saat itu kita dipandu oleh pemandu yang juga mantan Paspamres Thaliand bernama Cakgu. Sebelum masuk pesantren Cakgu menemui tentara yang mengikuti rombongan. Hingga kita bisa cermah. ” Aku Erna.
Sampai di pesantren Erna Rasyid Taufan, tertegun melihat 6.000 jamaah yang sudah memenuhi lokasi ceramah di pesantren itu.
” Masyallah nya, kami kira kami nantinya cermah hanya dihadiri puluhan pihak pondok, karena santri pada libur. Namun 6.000 orang siap mendengarkan ceramah. ” Cerita Erna.
Selesai ceramah, Erna kembali mengingat ketegangan para rombongan dalam bus. Sejumlah rombongan yang mayoritas perempuan itu ada yang menelpon suamiya menceritakan kondisi di Thaliand.
” Ha ha ha. Ada salah seorang rombongan menelpon suaminya. Kata dia ke suaminya melalui sambungan telepon jika nanti hp miliknya sudah tidak aktif berarti sang istri telah suhada di jalan Allah. ” Ungkap Erna, tersipu.
Kisah dari cerita Erna, menjadi pengalaman berharga, mengambil keputusan tegas tetap melanjutkan rencana ceramah di daerah konflik Thaliand, merupakan keputusan tepat dari seorang leader.
” Seroang pemimpin harus bisa ngambil keputusan tegas, walaupun bahaya mengancam. ” Tegas Erna. (D11)











