Ia juga mengatakan, Bantuan akibat bencana itu tergantung dampak yang ditimbulkan, kenapa diberi nama D’Balatau ini adalah semangatnya mencari data yang benar. Kita berharap masyarakat proaktif memberikan informasi kepada pemerintah Desa.
Kepala Desa Tandassura Zulfikar Yunus menyambut baik dijadikannya Desa Tandassura sebagai pilot project, “Desa kita ini selalu menjadi langganan banjir dan selama ini kita tidak pernah mengetahui secara pasti kondisi banjir, hanya kabar yang belum pasti saja,” jelasnya.
Dengan hadirnya digitalisasi kebencanaan ini yang menjadikan Desa Tandassura sebagai Pilot project adalah suatu kesyukuran tersendiri karena kita terpilih sebagai pilot project dari banyaknya Desa. tambahnya.
Sudah sering kejadian di Desa kami tiba-tiba air meluap padahal tidak ada hujan sehingga banyak ternak yang terbawa arus sungai.
Ditempat yang sama, Mihram Rahman menjelaskan, Alat ini dipadukan dengan aplikasi, dalam satu alat untuk mengukur angin dan ketinggian banjir. Setiap terjadi banjir akan ada pemberitahuan sistem masuk ke setiap handphone warga setelah mengunduh aplikasinya.
“Alat ini memberikan informasi peringatan kepada kita melalui handphone saat terjadi banjir karena didaerah kita kadang tidak ada hujan tapi terjadi banjir sehingga masyarakat dapat menyelamatkan barang berharga mereka sebelumnya,” jelas tenaga Ahli program D’Balatau Mihram Rahman.
Lanjutnya, aplikasinya bukan hanya dapat memberikan informasi peringatan tetapi masyarakat juga dapat memberikan aduan melalui sistem informasi ini.
Kepala Desa Galung Lombok Baharuddin menyampaikan, yang dibutuhkan di Galung Lombok bukan hanya pencegahan tapi butuh penanganan karena sudah terjadi erosi berjarak 100 meter dari pemukiman masyarakat.(bdt)











