POLMAN,DELIK.ID — Hadirkan layanan penanganan penyakit jantung, Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Polewali dan Rumah Sakit Jantung Harapan Kita lakukan penandatanganan dokumen perjanjian kerjasama (PKS).
Penandatanganan PKS ini diselenggarakan di gedung layanan poli RSUD Polewali yang dihadiri oleh Gubernur Sulbar Alibaal Masdar, Bupati Polman Andi Ibrahim Masdar, Direktur RS Harapan Kita dr. Iwan Dakota, Ketua Pengampuan Jejaring Rujukan Kardiopaskuler dan Rujukan Nasional Kardio Apskuler Dr.dr. Hananto Anriantoro, Direktur RSUD Polewali dr. Anita dan beberapa Kepala OPD lingkup Polman serta jajaran RSUD Polewali.
Layanan penanganan penyakit jantung ini rencananya akan memanfaatkan bangunan yang sudah ada di RSUD Polewali yang akan dibenahi dalam waktu dekat ini. Sementara untuk fasilitas sarana pendukung bersumber dari bantuan Kementerian Kesehatan sekira Rp. 160 milyar mulai dari beda kepala apabila ada pasien stroke, Paru-paru dan jantung.
Ketua Pengampuan Jejaring Rujukan Kardiopaskuler dan Rujukan Nasional Kardio Apskuler Dr.dr. Hananto Anriantoro menjelaskan, kerjasama tersebut adalah keputusan Menteri Kesehatan nomor 7182 yang melibatkan 54 jejaring Kardiovaskuler baik RS Provinsi maupun Kabupaten kota. Karena dianggap belum bisa mencakup pelayanan yang baik untuk rakyat Indonesia olehnya diputuskan ditambah jumlahnya menjadi 63 dan RSUD Polewali sudah masuk.
“Keputusan sebelumnya yang 54 itu baru RS Mamuju yang masuk, begitu draft Kep Menkes untuk RS jejaring Kardiovaskuler sudah jadi dan RSUD Polewali masuk. Kami langsung datang kesini sehingga eksekusi untuk kesiapan bangunan dan alat serta SDM ini harus bersama-sama,” terang Dr.dr. Hananto Anriantoro.
Lanjutnya, Sekarang ini upaya yang dilakukan bagaimana menyiapkan bangunannya karena 2023 nanti akan didatangkan alat canggih yakni kateterisasi laboratorium yang harga Rp.15 sampai Rp.18 Miliar yang ruangannya harus ditutup tima hitam agar radiasinya tidak keluar.
“Pemerintah Daerah harus bekerja keras sehingga pada bulan Maret mendatang alatnya sudah bisa masuk,” jelasnya Minggu 27 Maret.
Selain Fasilitas, Dr.dr. Hananto Anriantoro juga menyampaikan Kemenkes juga akan menyiapkan pendidikan bagi SDM penanganan jantung yang ditempatkan dibeberapa alternatif yakni RS Wahidin, Sarjito atau di Sangla.
“untuk pendidikan spesialis jantung yang akan melakukan intervensi akan mempunyai komptensi memasang ring jantung pada pasien yang terserang jantung akut,” tuturnya.
Menurutnya pasien jantung akut jumlahnya mendekati angka 1,5 persen dari angka populasi yang jika tidak dipasang ring angka kematiannya akan tinggi.
“Kami mendukung secara All out mulai dari knowledge, skill dan finansial, kami datangkan dengan kolaborasi yang baik salah satu komitmen itu dengan melakukan penandatanganan kerjasama,” jelasnya.










