Wildana juga mengaku, melakukan terapi pengobatan berupa pemberian vitamin, antibiotika dan atau antihistamin pada ternak yang masih menunjukkan gejala klinis Jembrana.
“Termasuk kita melakukan pengendalian vektor dengan melakukan pengasapan, penyemprotan insektisida secara berkala untuk mencegah penularan. Serta setiap penyuntikan yang dilakukan harus menggunakan jarum baru untuk masing-masing ternak yang diobati,” kata Wildana.
Dinas PKP bersama tim terpadu Pemkot Parepare juga melakukan monitoring secara berkala kepada hewan rentan (Sapi Bali) di sekitar lokasi kasus dengan cara melakukan surveilans klinis disertai pengambilan sampel untuk mendeteksi dini dan pemetaan kasus penyakit.
Tak hanya itu, Dinas PKP juga mengoptimalkan vaksinasi dengan persedian vaksin yang secara optimal. “Petugas iSIKHNAS terus melakukan pembaharuan data perkembangan kasus dan melaporkan ke iSIKHNAS. Membuat pemetaan lokasi untuk persiapan penentuan zona vaksinasi di wilayah yang berbatasan dengan lokasi kasus,” tegas Wildana.
“Kami dari Dinas PKP meminta kepada masyarakat untuk tetap tenang menghadapi endemi ini. Karena sejauh ini penanganan yang telah dilakukan berjalan sesuai perencanaan. Dan penyakit Jembrana optimis tetap dapat dikendalikan,” tandas Wildana. (d11/dlk#)











