“Dengan melakukan pembenahan – pembenahan di awal 2023 ini, kita masih mampu menyelesaikan pasokan air bersih yang ada di instalasi pengolahan air minum karajae, apalagi di sini ada 5 IPA namanya sumur intake yang dapat menarik air ke atas masuk ke pengolahan melalui tiga tahapan yang dilewati untuk sampai ke pelanggan,” jelasnya.
Eks pimpinan DPRD Parepare itu mengaku bersyukur sejak tahun 2014 di masa Pemerintahan Wali Kota Parepare (Taufan Pawe) dan Wakilnya (Pangerang Rahim) konsisten untuk menyelesaikan masalah-masalah air di masyarakat dengan menghadirkan 17 sumur bor dalam dengan sistem geolistrik serta 5 reservoir yang bisa memproduksi air bersih 20 liter perdetik dalam satu titik, dan bisa menyuplai ketersediaan air bersih di sejumlah titik.
“Jadi kalau ada masalah air di sini, itu dapat segera diatasi melalui sumur bor dalam ini atau sebaliknya,” ungkapnya.
Firdaus menambahkan, inovasi-inovasi yang dilakukan pihaknya dengan bekerjasama Pemerintah Kota Parepare terkait pendistribusian air bersih, hal itu mendapat respons positif dari masyarakat berdasarkan survei CRC.
“Berapa hari yang lalu survei dari luar itu telah diumumkan oleh Bapak Walikota (Taufan Pawe) pada saat rakor monev bahwa pelayanan air bersih di Kota Parepare masyarakat sangat puas, terlihat dari survei sekitar 87%. Tentu hasil ini saya berterima kasih kepada seluruh tim manajer sampai karyawan yang betul-betul tiap hari bekerja maksimal 24 jam melakukan pelayanan kepada masyarakat sampai pembenahan ke pipa pelanggan, hingga pendistribusiam air jika kondisi cuaca tidak baik,” tambahnya.
Sebelumnya, Wali Kota Taufan Pawe, juga telah meninjau Salo Karajae untuk melihat kerusakan sarana dan prasaran PAM Tirta Karajae yang terjadi pada 18 november lalu, hal ini kata dia sebagai bukti bahwa Pemerintah Kota Parepare tidak tinggal diam menyikapi adanya gangguan pendistribusian air bersih ke masyarakat. (d11/dlk)










