Banyaknya kepala daerah yang menggunakan media sosial, menurut pengamat komunikasi dan media Dr Aryo S Eddyono tak lepas dari pertumbuhan media sosial setiap tahunnya.
“Massa ini menjadi peluang bagi siapa pun untuk bermain di sana dan menggunakannya untuk tujuan-tujuan tertentu, termasuk sejumlah kepala daerah dalam upaya mendekatkan dirinya kepada masyarakat,” jelas Aryo yang juga dosen Ilmu Komunikasi Universitas Bakrie ini.
“Si kepala daerah harus sadar siapa yang ia sasar sebagai penerima pesannya. Tidak semua orang juga senang dengan isu-isu yang terkait dengan kebijakan publik dan politik,” kata Aryo.
Media sosial, kata Aryo, jangan hanya dijadikan sebagai wahana pamer diri, pamer prestasi, kehebatan, tapi juga harus bisa dijadikan wahana menemukan dan menyelesaikan masalah, terutama soal pengaduan terkait layanan dan fasilitas publik.
Percakapan tidak hanya soal sukses diri, tapi ruang memberikan masukan atas kinerja. Birokrasi yang lamban dan bertele-tele sudah tidak zamannya pada saat ini.
Di beberapa daerah pengaduan melalui media sosial bukan hal baru lagi. Biasanya dilakukan di daerah-daerah yang kepala daerahnya paham benar memanfaatkan media sosial dan memang mau kerja cepat.
“Prinsipnya, jika tujuannya adalah membahagiakan masyarakat, maka cara apa pun harus ditempuh. Agar menjadi pemimpin yang hegemonik harus bisa merespons kebutuhan masyarakat dengan baik. Ruang-ruang komunikasi harus dibuka terus-menerus di berbagai saluran. Si kepala daerah harus memiliki perspektif ini agar langgeng,” ucap Aryo. (D11)












