Ia menyampaikan, dari total luas lahan persawahan di Desa Botto yang mencapai 1.073 hektare, sebanyak 1.036 hektare berhasil dipanen. Sementara 37 hektare lahan mengalami gagal panen.
Menurutnya, lahan yang gagal panen tersebut merupakan sawah tadah hujan yang cukup rentan terhadap kondisi kekeringan.
“Dari total 1.073 hektare, yang gagal panen hanya 37 hektare. Itu pun sawah tadah hujan. Sementara, sebanyak 1.036 hektare berhasil panen dengan rata-rata produksi mencapai 8 ton per hektare,” jelasnya.
Capaian tersebut menjadi kabar baik bagi masyarakat Desa Botto, terutama para petani, di tengah tantangan musim kemarau. Hasil panen yang cukup tinggi juga menunjukkan produktivitas pertanian masyarakat tetap terjaga meskipun kondisi cuaca kurang mendukung.
Syaharuddin berharap tradisi mappadendang terus dilestarikan sebagai bagian dari budaya masyarakat. Tradisi tersebut juga menjadi momentum untuk memperkuat kebersamaan dan rasa syukur atas hasil pertanian yang diperoleh.(*)
