“Yang sedih tuh ya teman-teman (perawat), karena mereka harus bermalam di RS untuk karantina,” bebernya.
Dokter spesialis paru ini pun kembali menyemangati tim untuk terus berikhtiar dan tawakkal.
“Saya cuma bilang, bersabarlah, In Sya Allah pasien pasien macam ini yang menarik tangan kita ke surga,” ujarnya.
Sementara Jufri, salah satu perawat menceritakan bagaimana dia harus menggunakan kostum APD berupa pakaian Hazmat atau pakaian dekontaminasi yang harus digunakan berjam-jam saat melakukan penanganan pasien.
“Pakaiannya terasa panas. Pakainya 4-6 jam. Tahan BAB dan BAK, serta menahan haus dan lapar. Bayangkan kalau masuk tengah malam keluar subuh. Setelah pakai APD harus mandi keramas bersih. Belum lagi itu teman teman perawat kalau pasang infus mereka harus lebih teliti karena tiga lapis sarung tangan dipakai,” kisahnya.
Jufri mengaku selama 19 hari bergabung dengan Tim Covid-19 harus menahan kerinduan terhadap keluarga tercinta.
“Rindunya luar biasa, komunikasi hanya bisa lewat video call. Kalau hari ini hasil rapid test negatif baru bisa ketemu keluarga,” harapnya.
Jufri mengaku sangat bersedia jika manajemen RSUD kembali menugaskannya dalam Tim Penanganan Covid-19 jika kembali ada pasien masuk.
Tim Covid-19 ini terdiri dari tenaga Dokter Spesialis Paru, Dokter Spesialis Penyakit Dalam, Dokter Spesialis Anastesi, Dokter Spesialis Patologi Klinik, Dokter Spesialis Radiologi, Perawat, Analis Lab, Radigrafer, tenaga PPI, Surveilans (administrasi) , cleaning service, tenaga Loundry & CSSD dan Tim IPSRS. (k13)











