Ia mengungkapkan, Pertamina secara rutin melakukan monitoring ke SPBE, agen, dan pangkalan untuk memastikan distribusi berjalan normal. Bahkan dalam tiga hari terakhir, pasokan Elpiji untuk Parepare telah ditingkatkan dari sekitar 7.240 tabung menjadi 7.800 tabung per hari.
“Kami melihat permintaan cukup tinggi dalam beberapa minggu terakhir, kemungkinan terdampak musim kemarau,” katanya.
Menurut Mulian, peningkatan konsumsi Elpiji tidak hanya berasal dari rumah tangga dan usaha mikro, tetapi juga dari petani yang menggunakan Elpiji untuk mengoperasikan mesin pompa air irigasi.
Ia menjelaskan, berdasarkan regulasi pemerintah, penggunaan Elpiji subsidi untuk sektor pertanian hanya diperbolehkan bagi petani sasaran yang menerima bantuan konverter kit BBM ke BBG dari pemerintah.
Namun di lapangan banyak petani yang melakukan konversi secara mandiri sehingga ikut menggunakan Elpiji subsidi.
“Banyak petani yang menggunakan Elpiji untuk pompa air karena dinilai lebih hemat, waktu operasionalnya lebih lama, dan biayanya lebih murah dibandingkan BBM,” ungkapnya.
Meski demikian, Pertamina bersama pemerintah daerah dan aparat penegak hukum terus melakukan koordinasi untuk memastikan distribusi Elpiji subsidi tetap tepat sasaran.
Terkait penyaluran melalui pengecer, Mulian menyebut regulasi masih memperbolehkan pengecer terdaftar menerima sekitar 10 persen dari alokasi pangkalan.
Namun saat ini pihaknya mengimbau seluruh pangkalan agar lebih memprioritaskan penjualan kepada konsumen langsung, khususnya rumah tangga dan usaha mikro.
Salah seorang warga Parepare, Rahim, mengaku masih dapat membeli Elpiji 3 kilogram langsung di pangkalan dengan harga yang bervariasi.
“Kadang saya beli Rp18.500 per tabung, kadang juga sampai Rp20.000 per tabung,” katanya. (D11)
