PINRANG, DELIK.ID — Isak tangis menyelimuti Tempat Pemakaman Umum Desa Pincara, Kecamatan Patampanua, Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan, Senin siang. Di atas pusara sang anak, Aipda Jabir, anggota Polres Pinrang, tak kuasa menahan duka usai memakamkan putranya, Bripda DP, yang diduga menjadi korban penganiayaan di asrama Polda Sulawesi Selatan.
Dengan suara bergetar dan mata sembab, Aipda Jabir memohon agar kasus yang merenggut nyawa anaknya diusut hingga tuntas. Ia meminta keadilan ditegakkan tanpa pandang bulu.
“Saya minta kepada Bapak Kapolda agar kasus ini diusut sampai tuntas. Siapa pun yang terlibat harus diproses sesuai hukum yang berlaku. Anak saya pergi dengan cara yang sangat menyakitkan bagi kami,” ujar Aipda Jabir di sela-sela pemakaman, menahan tangis.
Bripda DP dikenal sebagai sosok muda yang menjadi kebanggaan keluarga. Sang ayah berharap putranya kelak menjadi penerus pengabdian di institusi kepolisian. Namun harapan itu kini pupus. Seragam kebanggaan yang dulu dikenakan almarhum kini hanya menyisakan kenangan dan luka mendalam bagi keluarga.
Suasana pemakaman pun dipenuhi tangis histeris keluarga. Beberapa kerabat tak mampu menahan emosi di atas pusara almarhum. Ratapan terdengar bersahut-sahutan, menandakan betapa berat kehilangan yang mereka rasakan.
Keluarga mengaku sedikit lega setelah Kapolda Sulawesi Selatan, Djuhandhani Rajardjo Puro, berjanji akan mengusut tuntas peristiwa tersebut. Janji itu menjadi secercah harapan di tengah duka mendalam.
“Kami hanya ingin keadilan. Jangan sampai ada lagi kejadian seperti ini. Cukup anak kami saja,” tambah Aipda Jabir lirih.
Hingga kini, dugaan penganiayaan yang terjadi di lingkungan asrama Polda Sulsel masih dalam proses penyelidikan. Keluarga berharap proses hukum berjalan transparan dan memberikan kepastian atas penyebab pasti meninggalnya Bripda DP. ( D11)











