Tim Percepatan Penurunan Stunting Enrekang Gelar Rakor, Akselerasi Target 15 Persen di Akhir 2023

Bupati bahkan siap membuat regulasinya. Ia memerintahkan segera berkoordinasi antara Ka BKKBN, Kabag Hukum, APDESI, camat. “Asalkan tidak melanggar, kita buatkan dasar hukum penganggaran di APBDes,” ujar Ketua DPD Partai Golkar Enrekang ini.

Wabup Asman selaku Ketua TPPS menekankan pentingnya menurunkan stunting. Penderita stunting umumnya rentan terhadap penyakit, memiliki tingkat kecerdasan di bawah normal serta produktivitas rendah. Sehingga tingginya prevalensi stunting berdampak langsung pada kerugian ekonomi dan ketidaksejahteraan masyarakat.

Dari 14546 bayi di Enrekang, ada 19,45 persen yang menderita stunting. Dengan kecamatan Buntu Batu, Baraka, Malua yang mencatat prevalensi tertinggi.

“Kita sudah punya data pasti. By name dan by adress. Sehingga yang perlu kita gencarkan adalah aksi nyata,” papar Asman.

Wabup menekankan perlunya membiasakan pola hidup sehat, makan makanan bergizi, dan memanfaatkan pangan lokal. Ketua Partai Nasdem Enrekang ini bahkan menggagas pemecahan rekor MURI minum jus massal. Racikan jus kelor dari TP-PKK Enrekang baru saja sukses menjadi yang terbaik pada Semarak Horti Ceria tingkat Sulsel, belum lama ini. Sehingga menarik disosialisasikan secara massif agar dijadikan sajian rutin keluarga.

Kaper BKKBN Provinsi Sulsel Andi Ritamariani turut memuji pelbagai upaya penurunan stunting di Enrekang. BKKBN siap memberi support penuh atas program-program tersebut.

Kinerja penurunan stunting Enrekang, kata Andi Ritamariani, juga didukung oleh ketersediaan pangan yang bergizi. Bahkan Enrekang ia sebut daerah yang paling berpotensi meraih kemandirian pangan.

Pada kesempatan ini ia juga menyerahkan alokasi pagu DAK fisik sub-bidang KB dan bantuan operasional KB senilai Rp6 miliar, untuk Kabupaten Enrekang. (D11)

Related posts