Masyarakat MBD Tidak Rasakan Guncangan Saat Gempa M6,3 Terjadi

Sementara itu, tsunami pernah tercatat pada 1629, 1657, 1674, 1659, 1710, 1711, 1754, 1763, 1815, 1820, 1837, 1841, 1852, 1857, 1859, 1882, 1885, 1891, 1899, 1914 dan 1938. Tsunami pada kurun waktu tersebut dipicu oleh gempa bumi di beberapa sumber seperti palung Timor, Banda dan sumber lain.

Saat melakukan kajian tsunami, Tim Wave memilih beberapa tempat untuk melihat hasil endapan, seperti dari lubang trenching di Pulau Moa dan Letti. Dari hasil kajian, tim menemukan fosil organisme laut yang berada di dalam gua, Gua Raitawun, Desa Nuwewang, Kecamatan Letti, yang jaraknya 100 meter dari garis pantai. Lalu pada pinggir pantai juga ditemukan bongkahan batuan dasar laut yang terangkat.

Hasil Kajian dan 20-10-20

Kajian lapangan yang menghasilkan data serta catatan sejarah tsunami sejak tahun 1500 sampai dengan 1900 yang disusun pada Katalog Wichmann kemudian memunculkan jargon 20-10-20. Hal serupa juga pernah dikemukakan Tim Wave yang dipimpin Profesor Ron Harris. Saat itu, Ron menyampaikan jargon 20-20-20 untuk mengingatkan masyarakat yang tinggal di wilayah Pacitan, Jawa Timur.

Pada wilayah pulau-pulau di Maluku Barat Daya, tim mensosialisasikan 20-10-20. Angka 20 pertama merujuk pada durasi kejadian gempa selama 20 detik. Dengan gempa berdurasi waktu tersebut, masyarakat setempat memiliki waktu atau golden time hanya 10 menit untuk melakukan evakuasi ke tempat yang lebih tinggi. Angka 20 terakhir bermakna titik evakuasi yang harus ditempuh pada ketinggian 20 meter dari permukaan laut. (D11)

Related posts