Riset UMPAR Gunakan Augmented Reality untuk Tarik Minat Gen Z ke Pertanian

Dari tiga variabel tersebut, kesadaran terhadap modern farming menjadi variabel dengan pengaruh paling dominan. Laporan penelitian mencatat koefisien regresi kesadaran modern farming sebesar 0,203, lebih tinggi dibandingkan koefisien pengetahuan pertanian sebesar 0,114 dan minat pertanian sebesar 0,066.

Irninthya menilai temuan tersebut menunjukkan pentingnya pengetahuan, minat awal, dan kesadaran dalam membangun ketertarikan Generasi Z terhadap sektor pertanian. “Hasil kami sangat jelas. 71,2% minat Gen Z terhadap modern farming itu bisa kita bentuk. Kuncinya ada pada pengetahuan, minat awal, dan kesadaran. Kalau tiga ini kita sentuh dengan media yang tepat, mereka akan kembali ke pertanian,” kata Irninthya.

Media yang dikembangkan juga diarahkan untuk membuat pembelajaran pertanian lebih interaktif. Dalam rancangan penelitian, buku bergambar terintegrasi dengan aplikasi AR sehingga pengguna dapat memindai QR Code untuk melihat model pertanian modern dalam bentuk 3D, termasuk contoh teknologi yang digunakan dalam kegiatan pertanian.

Pendekatan tersebut juga mendapat respons dari peserta sosialisasi. Irninthya menceritakan seorang siswi kelas 12 di salah satu SMK di Parepare yang sebelumnya merasa malu jika dikaitkan dengan pertanian, tetapi kemudian tertarik setelah melihat visual tanaman hidroponik melalui aplikasi AR. “Wah, ini kayak filter Instagram Bu, tapi ini sayur beneran ya?” ujar siswi tersebut, sebagaimana diceritakan kembali oleh Irninthya.

Laporan penelitian menyebut regenerasi tenaga kerja pertanian menjadi salah satu persoalan yang melatarbelakangi riset tersebut. Peneliti menilai metode penyuluhan yang masih mengandalkan ceramah, brosur, dan poster perlu dilengkapi dengan pengalaman belajar berbasis teknologi agar lebih sesuai dengan karakter Generasi Z.

Penelitian ini dilaksanakan selama satu tahun dengan total anggaran Rp42.020.000. Pengembangan media menggunakan sejumlah perangkat dan layanan, antara lain lisensi Unity, 3Ds Max, dan Vuforia Cloud, sedangkan luaran penelitian diarahkan pada publikasi ilmiah dan media literasi AR dengan target Tingkat Kesiapterapan Teknologi (TKT) level 3.

Peneliti masih melihat kebutuhan pengembangan lanjutan agar media tersebut dapat digunakan secara lebih luas. Irninthya berharap aplikasi dapat dikembangkan dengan antarmuka yang lebih sesuai dengan karakter Gen Z dan tersedia secara gratis sehingga dapat dimanfaatkan oleh penyuluh pertanian di Sulawesi Selatan.

“Kedepan, saya ingin aplikasi ini bisa di-download gratis di Play Store, bisa dipakai oleh semua penyuluh pertanian di Sulawesi Selatan. Mimpi besar saya, suatu hari nanti anak muda akan bangga menjadi petani modern, petani yang mengendalikan kebun dari HP, petani yang panennya diekspor ke luar negeri.”

Pengembangan berikutnya juga diarahkan pada peningkatan teknologi hingga TKT 4 dan 5, termasuk integrasi dengan Virtual Reality (VR) serta pembuatan video pembelajaran 360 derajat. Dengan pengembangan tersebut, peneliti berharap literasi pertanian berbasis teknologi tidak berhenti sebagai luaran penelitian, tetapi dapat menjadi salah satu pendekatan untuk memperkenalkan pertanian modern kepada generasi muda.

Related posts