PAREPARE, DELIK.ID — Tim peneliti Universitas Muhammadiyah Parepare (UMPAR) mengembangkan bioinsektisida berbahan limbah biji buah untuk membantu pengendalian nyamuk Aedes aegypti, vektor Demam Berdarah Dengue (DBD), melalui penelitian yang dilaksanakan pada 2024. Riset tersebut memadukan pemanfaatan limbah, pengembangan produk ramah lingkungan, serta pemberdayaan kaum disabilitas dalam kerangka ekonomi sirkular.
Penelitian bertajuk “Valorisasi Limbah Biji Buah menjadi Sediaan Produk Bioinsektisida Preventif DBD Berbasis Penguatan Ekonomi Sirkular dan Pemberdayaan Kaum Disabilitas” itu dipimpin Dr. Rahmi Amir, S.Si., M.Kes. Berdasarkan hasil penelitian, ekstrak biji buah menunjukkan aktivitas terhadap larva Aedes aegypti, sementara pengembangan produk juga diarahkan pada bentuk granula, cair, dan bubuk.
Dalam ringkasan wawancara Tim Resona Saintek UMPAR, Rahmi menjelaskan bahwa riset tersebut merupakan upaya mengubah limbah menjadi produk yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomi. “Limbah biji buah yang selama ini tidak termanfaatkan diolah melalui proses ekstraksi bioaktif menjadi sediaan bioinsektisida ramah lingkungan.
demikian keterangan Rahmi dalam dokumen wawancara.
Penelitian memanfaatkan sejumlah limbah biji buah, antara lain mangga, alpukat, dan lengkeng. Biji buah yang dikumpulkan kemudian dikeringkan, digiling menjadi serbuk, lalu diekstraksi untuk memperoleh senyawa aktif yang selanjutnya diuji terhadap larva nyamuk.
Hasil uji laboratorium menunjukkan adanya peningkatan mortalitas larva seiring kenaikan konsentrasi ekstrak. Pada konsentrasi 50 gram per liter, ekstrak biji mangga menghasilkan mortalitas 85 persen, alpukat 80 persen, sedangkan biji lengkeng mencapai 90 persen.
“Keunikan riset ini tidak hanya pada aspek saintifiknya, namun juga pada aspek sosial inklusif,” demikian keterangan yang tercantum dalam hasil wawancara.
Aspek sosial tersebut diwujudkan melalui keterlibatan kaum disabilitas dalam proses yang berkaitan dengan produksi dan pengemasan produk bioinsektisida.
Laporan penelitian mencatat, peserta disabilitas dilibatkan dalam sejumlah tahapan, mulai dari pengumpulan limbah biji buah, ekstraksi senyawa aktif, produksi hingga pengemasan bioinsektisida.
Keterlibatan tersebut diarahkan untuk meningkatkan keterampilan, inklusi sosial, dan kemandirian ekonomi sekaligus menerapkan prinsip ekonomi sirkular.
Penelitian juga melibatkan SLB Negeri 1 sebagai mitra dalam kegiatan pemberdayaan. Laporan menyebutkan bahwa mitra berperan sebagai tempat pemberdayaan anak-anak disabilitas dan mendukung kegiatan edukasi mengenai ekonomi sirkular serta pencegahan DBD.
Konsep ekonomi sirkular dalam penelitian tersebut tidak berhenti pada pemanfaatan limbah sebagai bahan baku. Berdasarkan hasil wawancara, sisa pengolahan juga diarahkan untuk dapat dimanfaatkan kembali sebagai pupuk organik sehingga rantai pemanfaatan bahan dapat diperpanjang.











