Selain menguji efektivitas terhadap larva, tim peneliti mengembangkan formula Emulsified Concentrate (EC) berbahan aktif ekstrak biji lengkeng. Laporan penelitian menyebutkan formula tersebut tetap stabil hingga 10 bulan penyimpanan pada suhu kamar dan dalam pengujian tertentu menunjukkan kemampuan mengurangi aktivitas makan serta populasi nyamuk dewasa.
Pada pengujian lapangan, penyemprotan formula EC dengan konsentrasi 0,2 persen yang dilakukan setiap minggu selama delapan minggu dilaporkan mampu menurunkan populasi nyamuk dewasa hingga 75 persen dibandingkan area kontrol. Hasil tersebut menjadi salah satu dasar tim untuk melanjutkan pengembangan formula sebagai bagian dari pengendalian vektor DBD.
“Proses produksi dan pengemasan produk akan melibatkan dan memberdayakan kaum disabilitas sebagai mitra produktif,” demikian keterangan dalam hasil wawancara Rahmi. Pendekatan tersebut dirancang untuk membangun ekosistem kewirausahaan sosial yang menghubungkan inovasi kesehatan lingkungan dengan peningkatan kemandirian ekonomi kelompok disabilitas.
Laporan penelitian juga mencatat bahwa prototipe bioinsektisida dalam bentuk granula telah dikembangkan dan diuji di laboratorium. Salah satu formulasi granula berbahan ekstrak biji alpukat dilaporkan mencapai mortalitas larva Aedes aegypti hingga 90 persen dalam waktu 24–48 jam setelah aplikasi.
Dari sisi luaran, penelitian menghasilkan prototipe bioinsektisida, artikel ilmiah yang diajukan untuk publikasi, serta program pelatihan produksi bagi kaum disabilitas. Laporan juga mencatat bahwa pengembangan produk turunan berupa formulasi cair dan bubuk masih memerlukan pengujian lanjutan, terutama terkait stabilitas produk.
Penelitian tersebut juga menemukan adanya peluang keterlibatan masyarakat dalam penerapan ekonomi sirkular. Survei yang dilaporkan dalam penelitian menunjukkan 83 persen responden menyatakan bersedia terlibat dalam kegiatan ekonomi sirkular dengan memanfaatkan limbah biji buah sebagai bahan dasar bioinsektisida.
Meski demikian, tim menghadapi sejumlah kendala selama penelitian, terutama ketersediaan bahan baku dalam jumlah besar dan keterbatasan koloni nyamuk dewasa untuk pengujian. Pengembangan produk cair juga menghadapi persoalan stabilitas, sedangkan formulasi bubuk masih membutuhkan pengujian lebih lanjut.
Ke depan, penelitian diarahkan pada pengembangan skala yang lebih besar dan penyempurnaan formulasi bioinsektisida. Integrasi inovasi tersebut dengan pemberdayaan kaum disabilitas diharapkan dapat mempertemukan kepentingan pengendalian DBD, pengurangan limbah, serta penguatan ekonomi berbasis masyarakat secara berkelanjutan.











