PAREPARE, DELIK.ID—Istilah KAHMI Perjuangan mencuat dalam Dialog Nasional bertajuk “Selamatkan Indonesia Mengurai Kegelapan Menuju Indonesia Baru” yang digelar di Hotel Bugis, Kota Parepare, Sabtu (26/9/2026).
Tokoh Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (KAHMI) Parepare, H. Rahman Saleh, mengungkap latar belakang munculnya istilah tersebut. Menurutnya, KAHMI Perjuangan lahir dari keresahan sejumlah senior dan kader yang melihat perlunya menguatkan kembali semangat perjuangan alumni Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).
Rahman menegaskan, KAHMI Perjuangan pada awalnya tidak dimaksudkan sebagai organisasi baru. Istilah tersebut lebih merupakan simbol kritik sekaligus bentuk koreksi terhadap kondisi KAHMI yang, menurut pandangannya, mulai semakin pragmatis.
“KAHMI Perjuangan itu hanya seperti istilah. Karena kami melihat KAHMI sekarang, mulai dari KAHMI Nasional, Majelis Wilayah sampai Majelis Daerah, cenderung lebih berorientasi pada hal-hal yang pragmatis,” ujar Rahman kepada awak media.
Ia menjelaskan, pragmatisme yang dimaksud berkaitan dengan kecenderungan mengutamakan kenyamanan maupun kepentingan tertentu. Kondisi tersebut dinilai berpotensi membuat visi dan semangat perjuangan KAHMI semakin jauh dari harapan masyarakat.
Keresahan itu kemudian mendorong sejumlah senior untuk berkumpul dan menggagas Dialog Nasional di Parepare. Forum tersebut diharapkan menjadi ruang untuk membicarakan berbagai persoalan kebangsaan sekaligus menghidupkan kembali tradisi kritis di lingkungan alumni HMI.
Rahman juga menyinggung adanya perbedaan respons dari sebagian pengurus KAHMI terhadap pelaksanaan kegiatan tersebut. Ia menduga, salah satu faktornya berkaitan dengan kehadiran sejumlah narasumber yang dinilai berada di luar arus utama serta tema dialog yang cukup sensitif.
“Karena itu, mungkin muncul kekhawatiran atau persepsi tertentu dari teman-teman di Majelis Daerah sehingga mereka kurang memberikan respons. Akhirnya, lahirlah istilah KAHMI Perjuangan sebagai bentuk alternatif dari kegiatan kami,” katanya.
Menurut Rahman, munculnya istilah KAHMI Perjuangan semestinya tidak dimaknai sebatas pembentukan kelompok baru. Sebaliknya, gagasan tersebut diharapkan menjadi ruang kritis untuk melakukan evaluasi terhadap perjalanan KAHMI.
Ia berharap seluruh jajaran KAHMI dapat menjadikan fenomena tersebut sebagai momentum untuk kembali memperkuat peran organisasi alumni HMI di tengah masyarakat.
“Semoga ini bisa menjadi ruang kritis dan koreksi. Karena masyarakat memiliki ekspektasi besar terhadap keberadaan organisasi alumni HMI tersebut,” ungkapnya.
Rahman menilai, KAHMI tidak semestinya hanya berada di zona nyaman atau terjebak pada kepentingan jabatan dan proyek. Menurutnya, alumni HMI tetap memiliki tanggung jawab moral untuk menjalankan fungsi kontrol terhadap kebijakan yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat.
“Kami berharap munculnya KAHMI Perjuangan tidak sekadar istilah, tetapi menjadi bentuk koreksi bagi seluruh jajaran KAHMI. Sebab, di masyarakat terdapat harapan yang besar terhadap KAHMI,” pungkas Rahman.(*)











