“Penyaluran disesuaikan dengan kemampuan dan kapasitas tampung toko pengecer, bukan semata permodalan. Tidak semua pedagang mampu menampung hingga 2 ton beras karena menjual komoditas lain,” jelasnya.
Dengan mekanisme tersebut, Bulog memastikan distribusi SPHP tetap disesuaikan dengan kebutuhan di masing-masing titik, sehingga stok dapat tersalurkan secara optimal.
Untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, Bulog Parepare mencatat rata-rata kebutuhan beras SPHP mencapai sekitar 300 hingga 400 ton per bulan.
Jumlah tersebut disalurkan melalui berbagai saluran, mulai dari pasar rakyat, Gerakan Pangan Murah (GPM), kegiatan pasar murah Pemerintah Kota Parepare, hingga penyaluran yang melibatkan Polres Parepare dan Kodim 1405 Parepare.
Kebutuhan tersebut dapat berubah mengikuti kondisi perberasan di Sulawesi Selatan. Menjelang berakhirnya masa panen, permintaan SPHP dapat meningkat. Sementara pada periode produksi atau panen melimpah, kebutuhan cenderung berada pada kisaran 300 hingga 400 ton per bulan.
Dengan kondisi stok beras yang cukup dan pasokan kemasan yang mulai membaik, Bulog Parepare masih membuka peluang memperluas titik distribusi SPHP melalui RPK di luar pasar rakyat.
Namun, realisasi penambahan RPK tetap akan mempertimbangkan ketersediaan kemasan. Bulog memastikan perluasan distribusi dilakukan secara terukur agar tidak mengganggu kelancaran penyaluran SPHP kepada masyarakat. (*)











