“Kita harus meyakini, bahwa harta yang kita miliki akan tetap menjadi harta kita, sampai setelah kita meninggal, dengan jalan sedekah. Dan belum ada sejarah orang jadi miskin karena sedekah,” jelas Ketua GPMB Indonesia Timur tersebut
Sementara itu, Dr. Ilham Kadir, menyampaikan materi dengan tema “Filantropi Islami”, ia menjelaskan bahwa pada prinsipnya masyarakat Enrekang sudah membudayakan filantropi secara turun temurun.
“Kita kenal istilah Tobana, tolong menolong, bantu membantu, dan nasihat menasihati, ini sudah jelas perbuatan filantropi, dan hingga kini pun budaya Tobana ini terus mengalami peningkatan,” jelas Ilham Kadir.
Ia melanjutkan, bahwa dalam Islam, ada dua jenis filantropi, sunnah dan wajib. Wajib itu termasuk zakat, nazar, dan kafarah. Ada pula sunnah seperti wakaf, infak, sedekah, dan hibah.
“Hanya saja filantropi islami harus jelas sumber dananya, harus halal, tidak boleh berasal dari dana non halal, karena peruntukannya pun harus dijalan kebajikan, jadi dananya harus yang bersumber dari yang baik-baik pula,” terang Dosen Unimen ini.
Pemateri terakhir, Ketua Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) Enrekang, Irsan, S.Ip., M.Ip., menyampaikan bahwa filantropi dibagi dua juga, ada yang bersifat konvensional, berupa perorangan, ada pula sudah dikelola dengan lembaga yang profesional.
“Kalau berbagi sesama lewat perorangan, sudah tidak asing lagi, namun berbagi lewat lembaga ini merupakan sebuah kemajuan karena mengelola dana filantropi dengan profesional,” papar Irsan.
Lembaga-lembaga filantropi kini tumbuh pesat, termasuk di dalamnya milik pemerintah seperti Baznas, atau milik organisasi dan yayasan, seperti lembaga amil zakat swasta. (D11)
